Showing posts with label Para Ilmuan. Show all posts
Showing posts with label Para Ilmuan. Show all posts

Friday, October 19, 2018

Karl terzaghi - Sejarah Perkembangan Mekanika Tanah


Menurut Terzaghi (1948), Mekanika Tanah (geoteknik) adalah penggunaan hukum-hukum mekanika dan hidrolika pada masalah teknikyang berhubungan dengan sedimentasi dan penggabungan pertikel-partikel padat yang dihasilkan dari desintegrasi mekanis dan kimiawi batuan.

Istilah teknik pondasi adalh cabang ilmu Teknik Sipil yang berhubungan dengan perencanaan, konstruksi, pemeliharaan dan perbaikan dari pondasi setempat, pondasi tiang, Caisson dan lain-lain. Banyak bangunan dibangun pada tahun antara 400 s/d 1400. Masalah yang dihadapi adalah penurunan (Settelment) yang besar. Sebagai contoh adalah menara Pisa yang dibangun antara tahun 1174 s/d 1350 dan Taj Mahal yang dibangun antara tahun 1632-1650.

Pada tahun 1661, Prancis membuat progran intensif untuk peningkatan jalan dan membangun kanal. Pada tahun 1776, Colomb, seorang Prancis mengemukakan teori " Wedge Theory of Earth Pressure". (Teori Keruntuhan Tanah yang berada di belakang Retaining Wall). Colomb adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep bahwa bahwa kekuatan geser tanah terdiri dari atas 2 komponen yaitu gesekan dan kohesi. Kemudian Poncelet (1788-1867) mengembangkan teori Colomb yaitu memberikan metode grafis untuk menentukan tekanan tanah pada dinding penahan tanah, baik dinding vertikal maupun dinding miring.

K.Culmann (1866) menurunkan rumus geometris untuk teori Colomb. Analisa secara grafis juga dikemukakan oleh Rebhann (1871) dan Weyrauch (1878). Pada tahun 1856 muncul 2 teori baru yang penting yaitu Hukum Darcy tentang aliran air di dalam tanah dan Hukum Stokes tentang pengendapan partikel padat di dalam cairan. Pada tahun 1857 Rankine mengemukakan rumus untuk menghitung tekanan tanah dan daya dukung pondasi. Konstribusi penting lainnya adalah berasal dari Boussinesq (1885) yang mengemukakan analisa distribusi tegangan pada lapisan elastis yang berada di bawah permukaan dimana beban terpusan bekerja. Muller-Breslau (1906) melakukan percobaan tekanan tanah pada model dinding penahan tanah berskalah besar. Pada tahun 1871, O Mohr mengemukakan gambar diagram tengangan yang dikenal dengan lingkaran Mohr. Didalam mekanika tanah, Lingkaran Mohr digunakan untuk menganalisa Kekuatan Geser Tanah.

Pada awal abad ke 20, sifat-sifat phisik tanah baru bisa dipahami, Atterberg (1911) mengemukakan beberapa tingkatan konsistensi tanah liat yang tergantung pada kadar air. Pada tahun 1916, Petterson dan Hultin menggunakan teori "Circular Sliding Theory" yang dikenal dengan "Friction Circle Instability Calculation", yang dikembangkan lebih lanjut oleh Fellenius pada tahun 1926 sehingga dikenal dengan nama "Swedish Method of Slope Analysis". Tahun 1920, L. Prandti mengemukakan teori keseimbangan Plastis yang merupakan dasar untuk perhitungan daya dukung tanah.

Dr Terzaghi mengemukakan teori konsolidasi pada tahun 1923 dan istilah Mekanika Tanah diberikan oleh Dr Terzaghi pada tahun 1925 sehingga beliau diberi gelar Bapak Mekanika Tanah. Pada tahun 1922-1923, Pavlovsky dari Rusia memberi peneyelesaian untuk masalah "seepage" (Pengaliran Air) dibawah konstruksi Hidrolik.

Sumber : delta teknik group jakarta

Semoga Bermanfaat :)

Ir. Ryantori - salah satu penemu Konstruksi Sarang Laba-Laba

Ir Ryantori salah satu penemu Konstruksi Sarang Laba-Laba

Miris untuk dikenang. Namun kejadian bencana alam terdahsyat pada 26 Desember 2014 silam tak mungkin serta merta terhapus begitu saja. Namun, gedung RSUD, gedung Dinas Kesehatan, gedung BAPEDA, gedung Pasar Simeuleu, gedung Pemerintah Kabupaten Simeuleu dan satu blok ruko tetap berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik ketika dilanda gempa NAD. Apa pasal? Setelah ditelisik ternyata adalah penggunaan fondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL). Sebuah sistem fondasi dangkal pertama di dunia yang mampu memaksa tanah untuk berfungsi sebagai struktur tanpa membuat tanah menjadi beban.

Foto PondasiKontruksi Sarang Laba-Laba :
Lalu siapakah penemu konstruksi yang telah mencetak rekor dunia sebanyak tiga kali ini. Ternyata mereka adalah alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), yaitu Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto. Perjalanan penemuan KSLL ini penuh perjuangan keduanya. Awal cerita dimulai saat Ir. Ryantori melamar di sebuah perusahaan konstruksi di Surabaya pada 1976.

“Pak Cip (Ir. Sutjipto), sehari sebelumnya melamar di situ. Beda lima angkatan dari saya. Waktu itu Pak Cip cuti kuliah dan sudah bekerja. 1976 awal beliau pindah kerja,  sehari kemudian saya melamar di tempat yang sama,” cerita Ir. Ryantori yang akhirnya meminang sekretaris perusahaan menjadi pendamping hidupnya.

Merekapun mendapat tantangan dari Direktur Teknik karena perusahaan sedang ada masalah pada tiga proyek di Kawasan Surabaya Timur akibat semua lantai dasarnya rusak.

“Akhirnya kami berdua ke sana. Yang menarik, dari ketiga bangunan itu dua fondasi dangkal dan satu fondasi dalam. Dua bangunan lantainya naik, satunya lantai ambles. Jadi kesimpulannya kalau begitu harusnya gedung tidak boleh dipisahkan antara lantai dengan kolom harus satu kesatuan,”ulasnya panjang lebar.

Dari situ akhirnya mereka berdua melakukan diskusi dan berkembang menjadi sebuah penelitian untuk menemukan solusinya. “Kami diskusi hingga gayeng, cocok kayak tumbu nemu tutup. Seminggu dua kali hingga tiga kali,”tambahnya.

Sampai suatu hari mereka membawa hasil penemuan tersebut ke kampus ditunjukkan kepada dosen-dosen. Sangat disayangkan, tidak ada respon. Bahkan para dosen menyebut bahwa ini bukan penemuan tapi akal-akalan.

“Akhirnya kami nekat kirim surat ke semua kampus nantang untuk presentasi,”ujar Ir. Ryantori. Di salah satu kampus di Jakarta, tidak disangka mereka bertemu Prof. Dr. Ir. Rooseno yang digelari Bapak Beton Indonesia, sekaligus mantan Menteri PU pertama zaman Bung Karno.


“Terus beliau mendengarkan kami presentasi setelah selesai kami dipanggil beliau menawarkan diri menjadi mentor. Bayangkan saja, seperti nemu durian runtuh. Wong kami ini sedang cari mentor dan ditolak di kampus,”papar pria kelahiran Surabaya tersebut.

Merekapun dimentori selama lima tahun. Pada awalnya, Prof Rooseno menyebut penemuan itu konstruksi komposit. Hingga Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto ditugaskan mencari literatur yang berhubungan dengan kompisit di Jogjakarta, Butuh waktu lima tahun untuk memastikan rumus serta menentukan positioning Sarang Laba-Laba paling tepat. Di mana Co Create cocok adalah fondasi tanggung 2-8 lantai.

“Prof. Rooseno berpesan jadilah raja di bangunan tanggung, karena bangunan tinggi luas tapaknya kecil,”paparnya tatkala dijumpai di salah satu hotel bintang empat Surabaya. Pada 1990 Ir. Sutjipto memutuskan masuk kancah politik mengusung PDIP, suaranya paling keras menjadi oposisi dari rezim Soeharto kala itu.

“Tahu-tahu, Sarang Laba-laba di black list oleh ring satu Pak Harto. Tapi jalan Tuhan menunjukkan bahwa saat kejadian gempa di Aceh membuka mata. Ini menjadi bukti solusi tahan gempa. karena tidak melawan. Pokoknya banyak hambatan di dalam perjalanan tapi saat ini rasanya waktunya berkembang,”kenang pria yang juga dikenal sebagai penggerak Filateli Indonesia dan penemu Abjad Ryantori ini.

Desain teknik ilmu sipil sebelum adanya Sarang Laba-Laba menganut sistem individualisme. Namun Sarang Laba-Laba merupakan konstruksi gotong royong seluruh tapak bangunan. Dan 85 persen fondasi ini menggunakan tanah. Bisa dipastikan meminimalir budget.

Sarang Laba-Laba adalah fondasi dangkal tapi punya banyak kelebihan dengan tiga rekor dunia. Bahkan dari penemuannya sendiri sudah menjadi suatu rekor . “Hampir seribu gedung telah memakai Sarang Laba-Laba. Kita sudah hak paten seri tiga. Semua berkat jalan Tuhan,”pungkasnya. (lely)


Sumber : BISNIS SURABAYA

Semoga Bermanfaat :)

Wednesday, October 17, 2018

Ir. Tjokorda Raka Sukawati - Penemu Sosrobahu

Ir. Tjokorda Raka Sukawati - Pencipta Sosrobahu

Untuk melihat vidionya link tersedia dibawah ini:

Ir. Tjokorda Raka Sukawati lahir di Ubud, Bali pada 3 Mei 1931 adalah seorang Insinyur Indonesia yang menemukan konstruksi Sosrobahu atau jalan layang, yang memudahkan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas pada saat pembangunannya, Tjokorda meraih gelar Insinyur bidang Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung 1962, dan memperoleh gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1996. Beliau meniti karier di PT. Hutama Karya yang bergerak dibidang jasa konstruksi dan infrasruktur, merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Departemen Pekerjaan Umum (PU). Ketika menggarap proyek jalan layang antara Cawang dengan Tanjung Priok di Jakarta itulah teknologi Sosrobahu ditemukan.

Sebenarnya temuannya belum diuji secara khusus di laboratorium saat dipraktekkan. Namun ia merasa yakin temuannya bisa bekerja sesuai rumusan ilmiah yang ada. Bahkan sebelum temuannya dipraktekkan, beliau yang menganut agama Hindu yang taat itu menyempatkan diri bersembahyang di atas konstruksi itu. Ia terbilang nekad saat itu, dengan mengatakan bahwa ia bersedia mundur dari direktur PT. Hutama Karya kepada menteri Pekerjaan Umum saat itu, bila temuannya itu ternyata tidak bisa bekerja. Namun ternyata temuan Sosrobahu itu dapat bekerja sebagaimana mestinya tanpa kurang suatu apa pun.

Penemuan teknik Sosrobahu terinspirasi dari dongkrak hidraulik mobil. Ketika Tjokorda memperbaiki kendaraannya, hidung mobil Mercedes buatan 1974-nya diangkat dengan dongkrak sehingga dua roda belakang bertumpu di lantai yang licin karena ceceran tumpahan oli secara tidak sengaja. Begitu mobil itu tersentuh, badan mobil berputar dengan sumbu batang dongkrak. Satu hal yang ia catat, dalam ilmu fisika dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Kejadian tadi memberikan inspirasi bahwa pompa hidraulik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Bayangan Tjokorda adalah menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.

Kemudian Tjokorda membuat percobaan dengan membuat silinder bergaris tengah 20 cm yang dibuat sebagai dongkrak hidraulik dan ditindih beban beton seberat 80 ton. Hasilnya bisa diangkat dan dapat berputar sedikit tetapi tidak bisa turun ketika dilepas. Ternyata dongkrak tersebut miring posisinya. Tjokorda kemudian menyempurnakannya. Posisinya ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya.

Untuk membuat rancangan yang pas, dasar utama Hukum Pascal yang menyatakan: "Bila zat cair pada ruang tertutup diberikan tekanan, maka tekanan akan diteruskan segala arah". Zat cair yang digunakan adalah minyak oli (minyak pelumas). Bila tekanan P dimasukkan dalam ruang seluas A, maka akan menimbulkan gaya (F) sebesar P dikalikan A. Rumus itu digabungkan dengan beberapa parameter dan memberikan nama Rumus Sukawati, sesuai namanya. Rumus ini orisinil idenya karena sampai saat itu belum ada buku yang membahasnya sebab memang tidak ada kebutuhannya.

Masalah lain yang muncul ada variabelnya yang mempengaruhinya, di antaranya adalah jenis minyak yang digunakan yang tidak boleh rusak kekentalannya (viskositas). Urusan minyak menjadi hal yang krusial karena minyak inilah yang meneruskan tekanan untuk mengangkat beton yang berat itu.

Setelah semua selesai, Tjokorda mengerjakan rancangan finalnya yakni sebuah landasan putar untuk lengan beton yang dinamai Landasan Putar Bebas Hambatan (LBPH). Bentuknya dua piringan (cakram) besi bergaris tengah 80 cm yang saling menangkup. Meski tebalnya 5 cm, piring dari besi cor FCD-50 itu mampu menahan beban 625 ton.

Ke dalam ruang di antara kedua piringan itu dipompakan minyak oli. Sebuah seal (penutup) karet menyekat rongga di antara tepian piring besi itu untuk menjaga minyak tak terdorong keluar, meski dalam tekanan tinggi. Lewat pipa kecil, minyak dalam tangkupan piring itu dihubungkan dengan sebuah pompa hidraulik. Sistem hidraulik itu mampu mengangkat beban ketika diberikan tekanan 78 kg/cm2.

Dia mengatakan bahwa temuan itu 80% atas kehendak Tuhan yang Maha Kuasa. Bahkan angka tekanan 78 kg/cm² yang ditetapkan dalam teknologi temuannya itu, sebenarnya angka misterius bagi beliau, entah dari mana saat itu beliau menetapkan angka wangsit itu, tetapi berhasil bahkan para insinyur Amerika Serikat yang mengerjakan jalan layang di Seattle begitu taat dengan ketetapan 78 kg/cm² itu. Belakangan, setelah diketahui di laboratorium yang kemudian dibangunnya sendiri itu, didapatkan hasil perhitungan berupa ketetapan sebesar 78,05 kg/cm². Persis sama dengan ketetapan angka wangsit tadi.

Penamaan Sosrobahu dan Pemberian Hak Paten
Pada pemasangan ke-85, awal November 1989, Presiden Soeharto ikut menyaksikan dan memberi nama teknologi itu Sosrobahu yang diambil dari nama tokoh cerita sisipan Mahabharata. Sejak itu LBPH tersebut dikenal sebagai Teknologi Sosrobahu.

Hak paten yang diterima adalah dari pemerintah Jepang, Malaysia, Filipina. Dari Indonesia, Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek mengeluarkan patennya pada tahun 1995 sedangkan Jepang memberinya pada tahun 1992. Saat ini teknologi Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan adalah buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Di Filipina teknologi Sosrobahu diterapkan untuk 298 tiang jalan. Sedangkan di Kuala Lumpur sebanyak 135. Saat teknologi Sosrobahu diterapkan di Filipina, Presiden Filipina Fidel Ramos berujar, "Inilah temuan Indonesia, sekaligus buah ciptaan putra ASEAN". Sementara Korea Selatan masih bersikeras ingin membeli hak patennya.

Teknologi Sosrobahu ini dikembangkan menjadi versi ke-2. Bila pada versi pertama memakai angker (jangkar) baja yang disusupkan ke beton, versi keduanya hanya memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan bahkan hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dibandingkan dengan yang pertama membutuhkan waktu dua hari. Dalam hitungan eksak, konstruksi Sosrobahu akan bertahan hingga 100 tahun (1 abad).

Menurut Dr. Drajat Hoedajanto pakar struktur dari Institut Teknologi Bandung, Sosrobahu pada dasarnya hanya metode sangat sederhana untuk pelaksanaannya (memutar bahu lengan beton jalan layang). Sistem ini cocok dipakai pada elevated toll road (jalan tol layang dalam kota) yang biasanya mengalami kendala lalu lintas dibawahnya yang padat. Sosrobahu terbukti bermanfaat dalam proses pembangunan jalan layang, sangat aplikatif, teruji baik teknis dan ekonomis.


Ir. Tjokorda Raka Sukawati (lahir di Ubud, Bali, 3 Mei 1931 – meninggal di Ubud, Bali, 11 November 2014 pada umur 83 tahun) adalah seorang insinyur Indonesia yang menemukan konstruksi Sosrobahu, yang memudahkan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas pada saat pembangunannya.

Sumber : Harian Proyek

#Jika Bangsa Ingin Maju Hargailah Karya Anak bangsa

Semoga Bermanfaat,Terimakasih :)


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More