Sunday, November 18, 2018

Download Laporan Uji Aspal - Politeknik Negeri Lhokseumawe


BAB I
PENDAHULUAN
Jalan raya merupakan suatu jalur yang dapat dilalui oleh lalu lintas dari suatu tempat ketempat yang lain, dengan memberikan rasa yang aman dan nyaman bagi pemakai jalan selama umur rencana dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan karena jalan raya merupakan sarana transportasi darat yang paling penting adalah jalan raya. Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka kebutuhan jalan yang memenuhi syarat guna dan kekuatan semakin meningkat. Jenis perkerasan jalan yang paling banyak digunakan adalah perkerasan lentur.

1.1         Latar Belakang Praktek
Pengujian bahan perkerasan jalan sangatlah penting untuk dapat memastikan kualitas perkerasan jalan yang direncanakan. Oleh karena itu diperlukan pengujian material bahan jalan dan pengujian terhadap campuran perkerasan jalan. Perencanaan campuran jalan (jobmix formula) meliputi pemeriksaan agregat, pengujian aspal, dan diakhiri dengan pengujian campuran perkerasan jalan yang sedang dirancang. Perencanaan campuran jalan dipelajari dan dipraktekkan dalam skala laboratorium yaitu dengan melaksanakan praktikum Pengujian Aspal pada Laboratorium Jalan Raya.

1.2         Tujuan Penulisan
Tujuan utama dalam penulisan laporan praktek pengujian aspal adalah sebagai salah satu syarat yang harus diselesaikan sebagai salah satu tugas setelah selesainya praktek pengujian aspal, serta sebagai salah satu bahan penilaian oleh dosen pembimbing atau instruktur. Dan juga sebagai hasil yang didapat dari praktek pengujian aspal yang berlangsung di Laboratorium Jalan Raya, Teknik Sipil, Politeknik Negeri Lhokseumawe.

1.3       Tujuan Praktek
Tujuan dalam Praktek Pengujian Aspal ini adalah:
       a.       Mahasiswa dapat memeriksa sifat-sifat agregat dan aspal;
       b.       Mahasiswa dapat mengetahui proporsi agregat yang memenuhi spesifikasi;
       c.       Mahasiswa juga dapat memperoleh kadar aspal optimum melalui rancangan campuran aspal dengan Metode Marshall.



BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1         Perkerasan Jalan
Perkerasan jalan adalah bagian dari jalur lalu lintas, yang bila kita perhatikan secara struktural pada penampang struktur dalam kedudukan yang paling sentral dalam suatu badan jalan (Zafar, 2009).
Perkerasan mempunyai daya dukung dan keawetan yang memadai, tetapi juga ekonomis, maka perkerasan jalan dibuat berlapis-lapis. Lapisan paling atas disebut juga sebagai lapisan permukaan, merupakan lapisan yang paling baik mutunya. Dibawahnya terdapat lapisan pondasi, yang diletakkan diatas lapisan tanah dasar yang telah dipadatkan. Material utama pembentuk lapisan perkerasan jalan adalah agregat, yaitu 90-95% dari berat campuran perkerasan. Daya dukung lapisan perkerasan ditetukan dari sifat butir-butir agregat, dan gradasi agregatnya. Bahan pengikat seperti aspal dan semen dipergunakan sebagai bahan pengikat agregat agar terbentuk perkerasan kedap air (Sukirman, 2003).
Perkerasan dengan mempergunakan aspal sebagai bahan pengikat disebut perkerasan lentur, dan perkerasan dengan menggunakan semen sebagai bahan pengikat disebut perkerasan kaku. Lapisan perkerasan yang menggabungkan perkerasan kaku dan perkerasan lentur dinamakan perkerasan komposit, tetapi pada penyajian kali ini kami hanya membahas masalah perkerasan lentur sesuai dengan hal di laboratorium yang telah kami lakukan (Zafar, 2009).

2.2              Bahan Campuran Aspal
2.2.1        Agregat
A.     Defenisi Agregat
Agregat didefinisikan secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras dan padat. ASTM 1974 mendefinisikan agregat sebagai satu bahan yang terdiri dari mineral padat, berupa masa berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen (Djanasudirdja, 1984)
Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu 90-95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75-85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain. Klasifikasi Agregat :
a)    Klasifikasi berdasarkan sumber bahan (resource)
Berdasarakan didapatkannya bahan, terdiri dari agregat alam, agregat buatan. Agregat alam diperoleh secara alamiah didalam ini, dengan sedikit pengolahan, seperti pasir dan kerikil. Agregat buatan adalah agregat yang memerlukan proses pemecahan batu dengan alat pemecah batu (stone crusher), untuk dijadikan material yang memenuhi syarat sebagai bahan perkerasan jalan.
b)   Klasifikasi berdasarkan dimensi butiran
Berdasarkan ukuran besar butiran dibedakan sebagai agregat kasar, dengan ukuran saringan butiran > ¼ inci (6,35 mm) yaitu bahan yang tertahan saringan no.4 dan agregat halus, bahan yang lolos saringan no.4 dan tertahan pada saringan no. 200 (0,075 mm). Yang lolos saringan no. 200 dikategorikan sebagai abu batu. Secara spesifik dimensi butiran, pasir termasuk agregat halus.

B.      Jenis Agregat
Agregat dapat dibedakan berdasarkan kelompok terjadinya, pengolahan, dan ukuran butirannya. Berdasarkan proses terjadinya agregat dapat dibedakan atas agregat beku (igneous rock), agregat sediment (sedimentary rock) dan agregat metamorfosik (metamorphic rock) (Sukirman, 2003).
Berdasarkan pengolahannya agregat dapat dibedakan atas agregat siap pakai, dan agregat yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dipakai.
a)      Agregat siap pakai adalah agregat yang dapat dipergunakan sebagai material perkerasan jalan dengan bentuk dan ukuran sebagaimana diperoleh dilokasi asalnya, atau dengan sedikit proses pengolahan. Agregat ini terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Agregat siap pakai sering disebut sebagai agregat alam. Bentuk partikel agregat alam ditentukan berdasarkan proses yang dialaminya.
b)      Agregat yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dipakai, adalah agregat yang diperoleh dibukit-bukit, digunung-gunung, ataupun disungai-sungai. Agregat digunung dan bukit umumnya ditemui dalam bentuk massif, sehingga perlu dilakukan pemecahan dahulu supaya dapat diangkat ketempat mesin pemecah batu (stone crusher). Sungai-sungai membawa agregat dimusim hujan, umumnya membawa agregat berukuran besar sehingga tidak memenuhipersyaratan ukuran yang ditentukan.Guna dapat dipergunakan sebagai material perkerasan jalan, agregat ini harus diolah dahulu secara manual, dengan mempergunakan tenaga manusia, atau melalui proses mekanis di mesin pemecah batu.

C.     Sifat Agregat sebagai Material Perkerasan Jalan
Sifat agregat merupakan salah satu factor penentu kemampuan perkerasan jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Oleh karena itu perlu pemeriksaan yang teliti sebelum diputuskan suatu agregat dapat dipergunakan sebagai material perkerasan jalan. Sifat agregat yang menentukan kualitasnya sebagai material perkerasan jalan adalah gradasi, kebersihan, kekerasan dan ketahanan agregat, bentuk butir, tekstur permukaan, porositas, kemampuan untuk menyerap air, berat jenis, dan daya pelekatan dengan aspal. Gradasi agregat merupakan sifat yang sangat luas pengaruhnya terhadap kualitas perkerasan secara keseluruhan (Sukirman, 2003).
2.2.2        Aspal
  1. Defenisi Aspal
Bitumen adalah zat perekat (cementitious) berwarna hitam atau gelap, yang dapat diperoleh di alam ataupun sebagai hasil produksi. Bitumen terutama mengandung senyawa hidrokarbon seperti aspal, tar, atau pitch (Sukirman, 2003).
Aspal didefinisikan sebagai material perekat (cementitious), berwarna hitam atau coklat tua, dengan unsure utama bitumen. Aspal dapat diperoleh dialam ataupun merupakan residu dari pengilangan minyak bumi. Tar adalah material berwarna coklat atau hitam, berbentuk cair atau semi padat, dengan unsure utama bitumen sebagai hasil kondensat dalam destilasi destruksi dari batubara, minyak bumi, atau material organic lainnya. Namun selain itu aspal juga dapat di artikan sebagai bahan alam dengan komponen kimia utama hidrokarbon, hasil explorasi dengan warna hitam bersifat plastis hingga cair, tidak larut dalam larutan asm encer dan alkali atau air, tapi larut sebagian besar dalam aether, CS2 bensol, dan chloroform (Sukirman, 2003).
Pitch didefinisikan sebagai material perekat (cementitious) padat, berwarna hitam atau coklat tua, yang berbentuk cair jika dipanaskan. Pitch diperoleh sebagai residu dari destilasi fraksional tar. Tar dan Pitch tidak diperoleh dari alam, tetapi merupakan produksi kimiawi. Dari ketiga material pengikat diatas, aspal merupakan material yang umum digunakan untuk bahan pengikat agregat, oleh karena itu seringkali bitumen disebut juga sebagai aspal.
Aspal adalah material yang pada suhu ruang berbentuk padat sampai agak padat, dan bersifat termoplastis. Jadi, aspal akan mencair jika dipanaskan sampai temperature tertentu, dan kembali membeku jika temperature turun. Bersama dengan agregat, aspal merupakan material pembentuk campuran perkerasan jalan. Banyaknya aspal dalam campuran perkerasan berkisar antara 4-10% berdasarkan berat campuran, atau 10-15% berdasarkan volume campuran (Sukirman, 2003).
               
  1. Jenis Aspal
Berdasarkan tempat diperolehnya, aspal dibedakan atas aspal alam dan aspal minyak. Aspal alam yaitu aspal yang didapat disuatu tempat dialam, dan dapat digunakan sebagaimana diperolehnya atau dengan sedikit pengolahan. Aspal minyak adalah asapl yang merupakan residu pengilangan minyak bumi.

a)              Aspal Minyak
Aspal minyak dengan bahan dasar aspal dapat dibedakan atas :
1.      Aspal keras/ panas (asphalt cement, AC), adalah aspal yang digunakan dalam keadaan cair dan panas. Aspal ini berbentuk padat pada keadaan penyimpanan (temperatur ruang).
2.      Aspal emulsi (emulsion asphalt) adalah aspal yang disediakan dalam bentuk emulsi, dapat digunakan dalam keadaan dingin ataupun panas. Aspal emulsi dan cutback aspal umum digunakan pada campuran dingin atau pada penyemprotan dingin.
3.      Aspal dingin/ cair (cut back asphalt) adalah aspal yang digunakan dalam keadaan cair dan dingin

1.      Aspal keras – panas (Asphaltic –Cement, AC)
Aspal ini berbentuk padat pada temperature ruangan, Di Indonesia aspal semen biasanya dibedakan berdasarkan nilai penetrasinya,yaitu :
a.       AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi antara 40-502.
b.      AC pen 60/70, yaitu AC dengan penetrasi antara 60-703.
c.       AC pen 85/100, yaitu AC dengan penetrasi antara 85-1004.
d.      AC pen 120/150, yaitu AC dengan penetrasi antara 120-1505.
e.       AC pen 200-300, yaitu AC dengan penetrasi antara 200-300Persyaratan Aspal Keras / Aspal Cement

2.      Aspal Emulsi (emulsion asphalt)
Aspal cement dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas  atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal semen dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas dengan volume rendah. Di Indonesia pada umumnya dipergunakan aspal semen dengan penetrasi 60-70 dan 80-100.
Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dalam bahan pengemulsi. Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya, aspal emulsi dapat dibedakan atas :
a.       Kationik, disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi yang bermuatan arus listrik positif.
b.      Anionik, disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang bermuatan negatif.
c.       Nanionik, merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak mengantarkan listrik.
d.      Nanionik, merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak mengantarkan listrik.

3.      Aspal dingin/ cair (cut back asphalt)
Aspal cair adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi. Dengan demikian cut back asphalt berbentuk cair dalam temperatur ruang. Berdasarkan bahan cairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dibedakan atas :
a.       RC (Rapid Curing Cut Back):Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bensin atau premium.RC merupakan cut back aspal yang paling cepat menguap.
b.      MC (Medium Curing Cut  Back):Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan pencair yang lebih kental seperti minyak tanah
c.       SC (Slow Curing Cut Back)
d.      Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan yang lebih kental seperti solar. Aspal jenis ini merupakan cutback aspal yang paling lama  menguap
Berdasarkan nilai viskositas pada temperatur 60oC, cutback aspal dapat dibedakan atas :
RC 30 – 60              MC 30 – 60              SC 30 – 60
RC 70 – 40              MC 70 – 140             SC 70 – 140
RC 250 – 500           MC 250 – 500           SC 250 – 500
RC 800 – 1600         MC 800 – 1600          SC 800 – 1600
RC 3000 – 6000        MC 3000 – 6000        SC 3000 – 6000

1.3              Marshal Test
Kinerja campuran aspal dapat diperiksa dengan menggunakan alat pemeriksaan Marshall seperti pada gambar di bawah. Pemeriksaan ini pertama kali diperkenalkan oleh Bruce Marshall, selanjutnya dikembangkan oleh U.S. Corps of Engineering (Sukirman, 2003).
Pemeriksaan dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) terhadap kelelehan plastis (flow) dari campuran aspal dan agregat. Kelelehan plastis adalah keadaan perubahan bentuk suatu campuran yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01”.
Alat Marshall merupakan alat tekan yang dilengkapu dengan proving ring (cincin penguji) yang berkapasitas 2500 kg atau 5000 pon. Proving ring dilengkapi dengan arloji pengukur yang berguna untuk mengukur stabilitas campuran. Di samping itu terdapat arloji kelelehan (flow meter) untuk mengukur kelelehan plastis (flow) (Sukirman, 2003).
Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 7,5 cm dipersiapkan di laboratorium, dalam cetakan benda uji dengan mempergunakan hammer (penumbuk) dengan berat 10 pon (4,536 kg) dan tinggi jatuh 18 inch (45,7 cm), dibebani dengan kecepatan tetap 50 mm/detik.
            Jumlah pukulan tergantung pada beban rencana lalu lintas misalnya untul lalu lintas ringan 35x, sedang 50x, dan berat 75x. Setelah dibiarkan 24 jam dalam suhu ruang, rendam benda uji dalam bak atau dipanaskan dalam oven selama  2 jam dengan suhu tetap 60º C, dan letak pada segmen bawah kepala penekan dari alat marshal (Sukirman, 2003).
            Sebelum pembebanan diberikan kepala penekan besrta benda uji dinaikkan hingga menyentuh alas cincin penguji. Berikan pembebanan dengan kecepatan tetap 50 mm/menit sampai pembebanan maksimum tercapai, atau pembebanan menurun  seperti ditunjukkan oleh jarum arloji baca, dan catat pembebanan maksimum yang tercapai. (Stabilitas Marshal),dan catat pula nilai kelelahan (flow) yang ditunjukkan jarum arloji kelelaha.Yaitu nilai regangan dalam unit 0,01 inci terjadi diantara kondisi tanpa beban dan beban maksimum. Perlu dicatat bahwa selang waktu dari saat benda uji dangkat dari bak rendaman, sampai didapatkan angka beban maksimum, tidak boleh melebihi 30 detik. Contoh sesudah direndam 24 jam diperiksa pula berat jenis dan void.
            Kadar aspaloptimum ditentukan dengan cara menggabungkan nilai – nilai VIM, VMA, VFA, Stabilitas/Flow tersebut, sehingga didapat suatu selang kadar aspal yang memenuhi syarat-syarat tersebut. Kadar aspal optimum dapat diambil sebagai nilai tengah dari selang tersebut (Sukirman, 2003).


Tempat Download BAB I-V

Download Laporan baja - Politeknik Negeri Lhokseumawe

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada dalam baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen, nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel, krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium.[1] Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice) atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja hitam karena berwarna hitam, banyak digunakan untuk peralatan pertanian misalnya sabit dan cangkul.

Penambahan kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).

Meskipun baja sebelumnya telah diproduksi oleh pandai besi selama ribuan tahun, penggunaannya menjadi semakin bertambah ketika metode produksi yang lebih efisien ditemukan pada abad ke-17. Dengan penemuan proses Bessemer di pertengahan abad ke-19, baja menjadi material produksi massal yang membuat harga produksinya menjadi lebih murah. Saat ini, baja merupakan salah satu material paling umum di dunia, dengan produksi lebih dari 1,3 miliar ton tiap tahunnya. Baja merupakan komponen utama pada bangunan, infrastruktur, kapal, mobil, mesin, perkakas, dan senjata. Baja modern secara umum diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya oleh beberapa lembaga-lembaga standar.

            Baja dikelompokkan dalam beberapa klarifikasi, yakni sebagai berikut :
1.    Berdasarkan komposisi
·     Baja karbon
·     Baja paduan rendah
·     Baja tahan karat
·     Berdasarkan proses pembuatan
·     Tanur baja terbuka
·     Dapur listrik
·     Proses oksidasi dasar
2.    Berdasarkan bentuk produk
·     Pelat batangan
·     Tabung
·     Lembaran
·     Pita
·     Bentuk struktural
3.    Berdasarkan struktur mikro
·     Feritik
·     Perlitik
·     Martensitik
·     Austenitik
4.    Berdasarkan kegunaan dalam konstruksi
·     Baja Struktural
·     Baja Non-Struktural
Perumusan Masalah
Pada praktek kerja baja yang berlangsung di bengkel teknik sipil pada semester II ini, pekerjaan yang dilakukan meliputi :
1. Menggunakan las listrik.
2. Menggunakan Las oksi-Asetilen.
1.2.       Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah :
1. Agar kita mengetahui prinsip-prinsip pekerjaan baja dengan baik.
2. Agar kita mengetahui langkah kerja yang benar dan baik dalam suatu pekerjaan pengelasan.
Adapun laporan ini telah disesuaikan dengan teori yang telah dipelajari pada praktek kerja baja dan juga dari praktek yang telah dilakukan selama tujuh hari terhitung dari tanggal 11 Februari 2014 s/d 18 Februari 2014.
Selain dari keterangan diatas dalam praktek pekerjaan bengkel baja ini kita harus mengetahui point-point penting dalam praktek kerja baja, antara lain :
- Tegak               - Rapi  
- Lurus               - Tepat ukuran
- Datar               - Siku
Untuk mencapai point-point diatas bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang tersedia atau hanya menggunakan indera penglihatan ( secara visual ).
Sebelum memulai pekerjaan baja setiap individu haruslah mempunyai keterampilan dasar dan pengelasan dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Las listrik
a. Memperhatikan jarak antara elektroda dengan objek (benda)
b. Memperhatikan sudut busur pada saat mengelas
c. Posisi pada saat mengelas
d. Tidak bercanda gurau pada saat proses pengelasan berlangsung
e. Melakukan gerakan  dan posisi pengelasan dengan benar
2. Las Asetilen
a. Mengatur api yang dihasilkan.
b. Memperhatikan pembakaran pada saat mengelas.
c. Menyalakan api las gas dengan benar,
d. Mengoperasikan pembakaran dengan benar,
1.3.       Jenis Pelaksanaan
1.3.1. Las Listrik
Las listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan menggunakan nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan disambung. Pada bagian yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga elektroda yang menghasilkan busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus sampai habis. Logam cair dari elektroda dan dari sebagian benda yang akan disambung tercampur dan mengisi celah dari kedua logam yang akan disambung, kemudian membeku dan tersambunglah kedua logam tersebut.Mesin las busur listrik dapat mengalirkan arus listrik cukup besar tetapi dengan tegangan yang aman (kurang dari 45 volt). Busur listrik yang terjadi akan menimbulkan energi panas yang cukup tinggi sehingga akan mudah mencairkan logam yang terkena. Besarnya arus listrik dapat diatur sesuai dengan keperluan dengan memperhatikan ukuran dan type elektrodanya.

Pada las busur, sambungan terjadi oleh panas yang ditimbulkan oleh busur listrik yang terjadi antara benda kerja dan elektroda. Elektroda atau logam pengisi dipanaskan sampai mencair dan diendapkan pada sambungan sehingga terjadi sambungan las. Mula-mula terjadi kontak antara elektroda dan benda kerja sehingga terjadi aliran arus, kemudian dengan memisahkan penghantar timbullah busur. Energi listrik diubah menjadi energi panas dalam busur dan suhu dapat mencapai 5500 °C. Las listrik di bagi atas 3 jenis yakni :

1.    Mesin las arus bolak-balik (Mesin AC)
yaitu mesin las yang menggunakan arus AC atau arus bolak –balik.
2.    Mesin las arus searah (Mesin DC)
yaitu mesin las yang menggunakan arus DC atau arus searah.
3.    Mesin las ganda (Mesin AC-DC)
Mesin las ini mampu melayani pengelasan dengan arus searah (DC) dan pengelasan dengan arus bolak-balik.

Tempat Download (Bab I s/d Bab V)

Download Laporan Uji Bahan 2 - Politeknik Negeri Lhokseumawe


BAB I
PENDAHULUAN

Konstruksi suatu bangunan yang baik dihasilkan dengan perencanaan serta penggunaan material yang baik dan tidak mengabaikan faktor-faktor keamanan maupun ekonomis yang menjadi tolak ukur dalam dunia industri. Mutu serta kualitas dari bahan yang akan digunakan untuk suatu konstruksi perlu diketahui sebab akan memudahkan perencanaan dan hasilnya juga dapat dipastikan akan lebih baik dibandingkan dengan bahan yang bermutu serta kualitas rendah.
            Pengunaan berbagai macam semen untuk bahan pengikat(lem) batu, kerikil, pasir dan bahan-bahan lainnya telah dipraktekkan sejak dahulu kala, pembakaran dapat mengubah batu kapur (limen stone) menjadi kapur mentah yang dapat menjadi panas bila dicampur dengan air kemudian mengeras secara perlahan-lahan yang dikenal dengan sifat hidrolis, inilah yang dikenal dengan adukan beton.
            Josep Aspidin dari leeds, menggunakan istilah semen portland untuk pertama kalinya pada tahun 1824 untuk menerangkan suatu patent dari semen yang dibentuk dengan cara memanaskan campuran tanah liat halus dengan batu kapur didalam suatu tungku dengan panas yang tinggi untuk membuang seluruh karbon dioksida.
            Peningkatan suatu semen portland serta penyempurnaan teknik bangunan beton sangat maju dalam beberapa tahun ini. Beton yang dikenal sekarang adalah suatu bahan bangunan dengan konstruksi, yang sifatnya dapat ditentukan terlebih dahulu dengan perencanaan dan pengawasan yang teliti, yaitu semen, agregat, air dan batu. Perlunya pemilihan bahan-bahan tersebut untuk disesuaikan sedemikian rupa agar dapat mengahasilkan beton yang mempunyai sifat-sifat khusus yang diinginkan untuk tujuan tertentu. Biasanya sifat-sifat yang diinginkan dalam bangunan-bangunan teknis adalah tahan cuaca dan kekuatan memenuhi karakteristik perencanaan yang sesuai dengan perhitungan rancangan. Semen berperan sebagai bahan perekat dalam suatu beton yang mempunyai sifat hidrolis. Semen biasanya menempati ± 15 % dari volume total beton.
Praktek pengujian bahan II adalah lanjutan dari praktek bahan I pada semester III yang dilakukan selama 9 hari, yang lebih banyak mengulas tentang campuran – campuran beton sehingga memiliki kekuatan tekan yang diinginkan.
            Adapun Materi-materi yang akan dikerjakan pada praktikum ini antara lain
  1. Kandungan air (moisture content)
  2. Berat jenis dan penyerapan agregat
  3. Analisa ayakan
  4. Berat volume agregat
  5. Penentuan kadar organik agregat halus
  6. rancangan campuran beton
  7. Penentuan slump
  8. menentukan bobot isi beton
  9. Pemeriksaan kuat tekan beton

Pada saat melakukan pengujian, material yang digunakan adalah semen type I, agregat halus dan agregat kasar. pengujian penentuan kadar organik dalam agregat halus yang berasal dari kreung Tingkeuem. Sebelum melakukan pengujian Agregat halus diayak terlebih dahulu dengan ayakan No 4.75. dan Agregat kasar diayak dengan ayakan No 31.5. Masing – masing bahan di siapkan sebanyak 5 Kg untuk di oven selama 24 jam sebagai benda uji untuk percobaan yang tersebut diatas.

Tempat Download (Bab I s/d Bab 3)

Download Laporan Uji Bahan 1 - Politeknik negeri Lhokseumawe


 BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Pengujian bahan I merupakan bagian dari reset-reset dalam ilmu teknik sipil. Pengujian adalah perekayasaan yang berkembang melalui pemahaman-pemahaman mengenai sifat, jenis, fungsi dan penggunaannya. Kayu adalah produk alami yang menampakkan berbagai variasi dalam segi kualitas maupun sifat. Study perihal kayu dimulai dari sebatang pohon hidup dengan meneliti tahap-tahap penebangan, pengubahan dan pengeringan
.
Pengujian bahan ini meliputi pengujian mortal dan kayu. Mortal merupakan susunan dari air, pasir, dan semen sebagai bahan pengikat. Mortar merupakan bahan bangunan yang sangat banyak mendominasikan bagian kontruksi bangunan. Oleh karnanya penggunaan mortal harus diteliti dahulu bahan-bahan penyusunannya dan kekuatan yang dimiliki oleh mortar tersebut. Kayu merupakan bahan kontruksi yang dapat dari hasil tumbuhan alam.Para ahli terus memikirkan kegunaan kayu untuk kontruksi secara efektif dan efisien, sehingga kosumsi kayu khususnya untuk kontruksi bangunan dapat diperkecil. Salah satu jalan untuk menghadapi pemasalahan di atas dengan mengadakan pengujian-pengujian kayu sebelum digunakan untuk bahan bangunan.
Pengujian material terhadap elemen-elemen dari suatu pembentuk kontruksi bangunan merupakan hal terpenting untuk menentukan kekuatan, ketahanan dan kualitas dari mutu pembentuk kontruksi tersebut.

1.2 Tujuan Pengujian
Dalam pengujian bahan I ini, kita melakukan pengujian untuk menentukan kekuatan / daya tahan kayu dan beton. Setelah adanya pengujian bahan ini, maka kekuatan kayu dan beton dapat di sesuaikan dengan layak pada suatu kontruksi serta bagaimana cara melakukan praktikum ini dan cara melakukan pemakaian peralatan dengan ba

1.3 Rumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka yang   akan diteliti ialah bagaimana cara menentukan kuat tekan beton dan kayu dan juga cara mengetahui kadar air dalam kayu dan lamanya pengikatan pada mortal, kemudian mencari tahu kesalahan-kesalahan apa yang terjadi sehingga beton dan kayu mudah patah dan hancur.

1.4    Kegunaan Pengujian
      Kegunaan pengujian ini sangatlah banyak, baik untuk para mahasiswa yang melakukan pengujian maupun masyarakat. Diantaranya bagi para mahasiswa yang melakukan pengujian bahan konstuksi bangunan yaitu memperoleh ilmu pengatahuan dan dapat menerapkannya dilapangan. Sedangkan bagi masyarakat yaitu dapat mempergunakan bahan bangunan dengan tanpa rasa was-was terjadinya kepatahan atau kehancuran karena telah mengetahui kayu apa saja yang layak dipakai pada bangunan.

1.5 Jenis-jenis Pengujian
     1. Kadar air kayu
     2. Berat jenis kayu
     3. Kuat tekan sejajar serat
     4. Kuat tekan tegak lurus serat
     5. Kuat geser sejajar serat
     6. Konsistensi mortal dengan Flowtable
     7. Waktu pengikatan mortal (Setting Time)
     8. Keteguhan / kekuatan tekan mortal
     9. Kuat lentur mortal
   10. Pengujian sifat fisis batu bata
   11. Kuat tekan batu bata
   12. Pemeriksaan suction rate batu bata

Tempat Download Full Laporan


Friday, November 16, 2018

Download Wondershare Filmora Last Version 7.3.0 + Crack Full

Wondershare Filmora

Bagi anda yang ingin mengedit vidio cut, effect ataupun menggabungkan vidio ya tentu itu semua bisa dilakukan dengan memiliki aplikasi tersebut banyak juga yang mengeluhkan saat didownload crak tidah ada ataupun cara downlod yang sulit dimengerti,

nah disini saya punya solusinya bro bagi anda editor pemula aplikasi Filmora ini sangat efektif bro karena sangat mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti saja juga memakai aplikasi ini untuk mengedit vidio atau mengubah vidio ke Mp3.

Anda hanya perlu baca aturan caradownload nya pada halaman selanjutnya maka filmora sudah terunduh/terdownload, sangat mudah bukan tidak ribet2 karna saya juga dulu mengeluhkan ketika ingin download suatu file maka akan selalu teralihkan kehalama lain dan membuat saya kesal maka dari itu saya membuat blog dan mempermudah itu semua.

Jangan lupa comment jika ada kekurangan atau kurang jelas dan comment juga jika link download rusak, terimakasih selamat mencoba guys,,, :)

Tutorial cara download Softwarenya:
1. Agar kawan2 tidak tersesat klik sana dan klik kemari dan akhirnya emosi.
2. klik link yang telah tersedia    link pertama google Drive atau klik link kedua Uptobox,
3. Setelah Klik Goodle Drive/Uptobox --> Saya buka robot --> lalu Klik Visit Link
4. Setelah 5,4,3,2,1 à --> Get Link --> download, selesai.

Tempat Download

Tinggalkan comment jika ada yang kurang jelas, terima kasih,,J

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More